KALIMANTAN BARAT - Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat mengupayakan menekan transaksi narkotika dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas). Mereka menggelar program rehabilitasi untuk warga binaan yang dihukum sebab masalah narkotika untuk menyingkirkan ketergantungan terhadap barang haram itu.
AGEN DOMINO - Sekurangnya sudah dua Lapas di Kalbar yang menyelenggarakan program rehabilitasi, yakni Lapas Kelas IIA Pontianak bersama 140 peserta dan Lapas Perempuan 20 peserta.
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalbar Ika Yusanti mengatakan, dalam sebagian th. terakhir, penghuni Lapas didominasi warga binaan bersama masalah narkotika, jumlahnya meraih 60 sampai 80 persen. Di lapas Pontianak ini warga binaan berjumlah 1.015 orang, 80 prosen dihukum sebab perkara narkotika.
Ika menerangkan, program rehabilitasi ini untuk menekan permintaan berasal dari para pengguna terhadap narkoba. "Kita sepakat, pengguna narkotika selayaknya tidak dimasukkan ke dalam Lapas, sebaiknya direhabilitasi. Tetapi terhadap sebetulnya di dalam Lapas masih banyak yang barangkali vonisnya pengedar atau bandar, tapi sebetulnya mereka adalah pemakai. Maka kalau nanti mereka berkumpul antara pemakai, pengedar, bandar, bakal terjadi pasar. Ada supply dan demand. Dengan rehabilitasi ini untuk mereduksi demand, mereduksi kemauan untuk memanfaatkan kembali," tahu Ika, Kamis (2/3).
Untuk pilih berasal dari 1.015 penghuni lapas Pontianak sampai terkumpul 140 orang yang direhabilitasi ini, pihak Lapas melakukan asesmen dan skrining bersama standar yang sudah ditentukan.
"Mereka semua mempunyai riwayat sebagai pengguna. Mereka ditempatkan dalam blok khusus. Tahapan sudah terpola dan standar yang sudah ditetapkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pastinya bersinergi bersama BNN, dan juga Rumah Adiksi Indonesia. Rehabilitasi ini dilakukan selama enam bulan," terangnya.
Program rehabilitasi kali ini merupakan yang keempat kali digelar sejak th. 2020. "Indikator keberhasilan adalah terdapatnya asesmen, skrining, dan penilaian diadakan oleh ahlinya WHO bersama standar WHO. Nanti dinilai pertama kali berapa skornya, secara periodik 3 bulan dinilai ulang sampai akhir apakah ada peningkatan atau tidak, dan tes urine tiap-tiap saat," pungkas Ika. AGEN POKER

0 Komentar